Pada masa Rasulullah ﷺ di Madinah, pernah terjadi sebuah peristiwa yang menjadi pelajaran besar bagi umat Islam.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jumat di hadapan para sahabat. Tiba-tiba terdengar suara tabuhan yang menandakan datangnya sebuah kafilah dagang dari negeri Syam. Saat itu, kondisi ekonomi kaum muslimin masih sulit sehingga kedatangan kafilah selalu dinantikan karena membawa berbagai kebutuhan pokok.
Mendengar kabar tersebut, sebagian jamaah bergegas meninggalkan masjid untuk menyambut kafilah dan membeli barang dagangan. Mereka meninggalkan Rasulullah ﷺ yang masih berdiri menyampaikan khutbah. Yang tetap bertahan bersama beliau hanya sedikit sahabat.
Atas peristiwa itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya:
"Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, 'Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.'"
(QS. Al-Jumu'ah: 11)
Sejak turunnya ayat tersebut, kaum muslimin semakin memahami bahwa mendengarkan khutbah Jumat adalah bagian dari ibadah yang tidak boleh diremehkan. Urusan dunia, termasuk perdagangan, harus ditunda hingga ibadah selesai.
Ibrah Kisah:
Kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia memang penting, tetapi jangan sampai membuat kita melalaikan kewajiban kepada Allah. Hari Jumat menjadi pengingat bahwa ada waktu yang harus kita khususkan untuk beribadah, mendengarkan nasihat, dan memperbaiki hati.
Ketika kita mendahulukan Allah daripada urusan dunia, Allah akan memberikan keberkahan dalam rezeki dan kehidupan kita. Sebagaimana firman-Nya, apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik daripada keuntungan dunia yang bersifat sementara.