MA YADARO Moyot
Jl. Soekarno-Hatta No.16, Moyot-Sakra, Lombok Timur, NTB

Berita

Kajian Subuh One Day One Ayat: Kebaikan Akan Kembali kepada Pelakunya

Tadabbur QS. Al-Isra' Ayat 7 bersama TGHY. Ibrahim Saleh al-Madani

Kegiatan One Day One Ayat yang dirangkaikan dengan Pengajian Subuh kembali menjadi agenda rutin yang memberikan siraman rohani bagi para santri. Pada kesempatan kali ini, TGHY. Ibrahim Saleh al-Madani mengajak seluruh jamaah untuk mentadabburi firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra' ayat 7. Ayat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam tentang hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia, bahwa setiap kebaikan maupun keburukan yang dilakukan pada hakikatnya akan kembali kepada diri pelakunya.

Allah SWT berfirman:

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu untuk dirimu sendiri."

(QS. Al-Isra': 7)

Dalam penjelasannya, TGHY. Ibrahim Saleh al-Madani menerangkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan kebaikan hamba-Nya. Semua amal saleh yang dilakukan manusia bukanlah untuk menambah kemuliaan Allah, melainkan menjadi bekal dan manfaat bagi diri mereka sendiri. Demikian pula setiap dosa dan kemaksiatan tidak akan mengurangi sedikit pun keagungan Allah, tetapi justru akan menjadi beban yang dipertanggungjawabkan oleh pelakunya di dunia maupun di akhirat.

Beliau menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan setiap muslim untuk memiliki kesadaran bahwa kehidupan adalah ladang amal. Apa yang ditanam hari ini akan dipanen pada waktunya. Tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di sisi Allah SWT. Meskipun hasilnya belum terlihat saat ini, Allah telah menjanjikan balasan terbaik bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan kesabaran.

Pesan tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan para santri. Masa mondok merupakan masa menanam, bukan semata-mata masa memanen hasil. Seorang santri yang tekun belajar, istiqamah menghafal Al-Qur'an, menjaga salat berjamaah, menghormati guru, menaati tata tertib pesantren, serta menjaga adab dalam kesehariannya, sesungguhnya sedang menanam benih-benih kebaikan yang kelak akan tumbuh menjadi keberkahan dalam hidupnya. Mungkin hasilnya tidak langsung tampak hari ini atau esok hari, tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang dilakukan dengan ikhlas.

Sebaliknya, beliau juga mengingatkan bahwa kemalasan, kedisiplinan yang rendah, kebiasaan menunda-nunda, serta mengabaikan amanah sebagai penuntut ilmu merupakan bentuk kerugian yang pada akhirnya akan dirasakan oleh diri sendiri. Santri yang menyia-nyiakan waktu belajar akan kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang. Oleh karena itu, QS. Al-Isra' ayat 7 menjadi pengingat agar setiap santri senantiasa memilih jalan kebaikan dalam setiap langkah kehidupannya.

TGHY. Ibrahim Saleh al-Madani juga menyampaikan bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Kesuksesan adalah buah dari ketekunan, kesabaran, dan keistiqamahan. Santri yang terus belajar meskipun menghadapi kesulitan, tetap mengulang hafalan walaupun sering lupa, dan tidak menyerah ketika diuji, pada akhirnya akan memetik hasil dari perjuangannya. Sebab, siapa yang menanam kebaikan dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengembalikan kebaikan itu dalam bentuk ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, kemudahan dalam urusan, serta keberhasilan di masa depan. Sebaliknya, siapa yang memilih jalan kelalaian, maka akibat dari pilihannya pun akan kembali kepada dirinya sendiri.

Di akhir kajian, beliau memberikan nasihat yang sangat menyentuh kepada para santri agar tidak pernah melupakan jasa kedua orang tua, khususnya ibu. Menurut beliau, keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kerja keras, tetapi juga oleh doa dan ridha orang tua. Oleh karena itu, setiap selesai salat, para santri hendaknya membiasakan diri mengirimkan doa untuk ibu dan ayah. Jangan pernah lelah memohon kepada Allah agar kedua orang tua diberikan kesehatan, ampunan, rahmat, dan keberkahan hidup. Doa seorang anak yang saleh merupakan amal yang sangat mulia, sekaligus menjadi sebab turunnya keberkahan dalam menuntut ilmu.

Beliau menutup kajiannya dengan mengajak seluruh santri untuk menjadikan QS. Al-Isra' ayat 7 sebagai prinsip hidup. Tanamkan keyakinan bahwa setiap kebaikan pasti akan kembali sebagai kebaikan, dan setiap keburukan akan kembali sebagai penyesalan apabila tidak segera disertai taubat. Karena itu, perbanyaklah amal saleh, istiqamahlah dalam belajar, hormatilah guru, muliakan kedua orang tua, dan jangan pernah putus berdoa kepada Allah SWT. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga menjadi ilmu yang berkah, bermanfaat, dan mengantarkan para santri menjadi generasi yang berakhlak mulia serta mampu memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

PROGRAM WAKAF AL-QURAN DAN LAYANAN MUSHAF